Minas Jaya, NagaNews.co – Memasuki masa pensiun kerap menimbulkan kecemasan, terutama soal kepastian penghasilan. Namun, kekhawatiran itu tak dibiarkan begitu saja oleh Jamaros (56), warga Kelurahan Minas Jaya, Kabupaten Siak, Riau.
Alih-alih berpangku tangan, ia memilih bergerak. Bersama warga lainnya, Jamaros menekuni budidaya perikanan sebagai sumber penghasilan baru sekaligus menguatkan ekonomi warga sekitar.
Kini, kecemasan itu perlahan sirna. Sebagai anggota Kelompok Budidaya Perikanan (Pokdakan) Jaya Bersama, Jamaros mendorong kemajuan budidaya lele yang sebelumnya dikelola seadanya. Kini usahanya terus bertransformasi menjadi unit usaha menjanjikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dari sekarang kami mulai sedikit-sedikit, supaya ada yang bisa diharapkan untuk masa depan,” ujar Jamaros.
Ia menceritakan, kolamnya yang semula hanya berkapasitas 3.000 bibit lele, kini berkembang pesat hingga mampu menampung 15.000 bibit per siklus.
Perjalanan menuju titik ini tak mudah. Di awal, kelompok yang berisi pensiunan dan ibu rumah tangga ini sempat terseok akibat tingginya biaya pakan, keterbatasan modal, serta ketergantungan pada tengkulak yang menggerogoti keuntungan.
Titik balik datang saat Pertamina Hulu Rokan (PHR) hadir sebagai mitra. PHR menginisiasi Gabungan Kelompok Perikanan (Gapokkan) Minas Bahari Serumpun, yang mewadahi delapan kelompok budidaya, termasuk Jaya Bersama.
Tak hanya memberi 24.000 bibit lele dan pakan, PHR juga memberikan mesin pembuat pelet mandiri dari ikan rucah serta pelatihan probiotik. Hasilnya, biaya produksi yang dulu menjadi kendala utama kini mampu ditekan. Sebagai gambaran, dalam satu siklus (3 bulan) dengan 7.500 ekor lele, dibutuhkan sekitar 850 kg pakan.
Dengan ilmu baru, warga Minas Jaya kini disiplin meracik probiotik sendiri, mengatur kepadatan tebar, serta memantau kesehatan ikan.
Keberhasilan ini semakin nyata ketika sejak 2025, Gapokkan Minas Bahari Serumpun sukses memasok lebih dari 1 ton lele untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan nilai penjualan sekitar Rp23,9 juta.
Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan, “Kami percaya masyarakat punya potensi besar. Peran kami adalah mendukung agar potensi itu tumbuh produktif, mandiri, dan memberi manfaat bagi lingkungan.”
Dampak ekonomi pun langsung terasa. Kelompok Jaya Bersama melibatkan ibu-ibu rumah tangga untuk membersihkan ikan hasil panen yang disuplai ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Alhamdulillah, dari bantu bersihkan lele ada tambahan buat dapur. Kadang setelah panen kami makan bersama. Ke depannya, kalau hasil semakin bagus, kami ingin coba bikin ikan salai,” ujar Weti, salah seorang ibu rumah tangga.
Dari kolam lele di Minas Jaya, budidaya lele bukan lagi sekadar kegiatan sampingan. Ia telah menjadi tumpuan hidup baru yang membawa bangga, optimisme, dan kesejahteraan nyata bagi masyarakat. (MS/Hms PHR)
Penulis : MS
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Hms PHR






