Langsa, NagaNews.co, – Permasalahan penggunaan data desil sebagai dasar pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkat pendapatan ekonomi di Kota Langsa dan Aceh pada umumnya menjadi perbincangan hangat pascabencana banjir yang terjadi pada November lalu.
Masyarakat menilai pemerintah, melalui dinas dan instansi terkait, tidak teliti dalam menentukan desil. Pasalnya, penetapan desil bagi sejumlah individu atau kelompok dinilai tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Masih banyak warga yang hidup rentan miskin dan paling miskin, tetapi justru masuk dalam kelompok desil untuk masyarakat mapan (kaya).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jol Beta, seorang warga Kota Langsa, kepada NagaNews.co beberapa hari lalu mengungkapkan, “Penentuan kelompok berdasarkan taraf ekonomi yang dilakukan pemerintah melalui instansi terkait masih jauh dari data yang benar.”
Ia meminta pihak terkait agar lebih teliti dan turun langsung memantau kondisi masyarakat. “Kami minta petugas agar turun ke lapangan, jangan hanya duduk di balik meja. Jangan tunggu data sampai ke kantor tapi tidak akurat,” tegas Jol Beta.
Menurutnya, langkah ini penting untuk mencegah kegaduhan di masyarakat akibat kerja instansi yang tidak berdasarkan fakta sebenarnya.
Secara terpisah, warga lainnya, Jamal, yang hidup jauh dari kata sejahtera, menyampaikan hal serupa. “Permasalahan desil perlu dilakukan verifikasi lapangan demi keakuratan data dalam pengelompokan warga.”
“Dengan data yang akurat, kerja pemerintah dalam penyaluran bantuan akan mudah dan tepat sasaran. Bantuan tidak akan diterima oleh masyarakat mapan yang memiliki desil rendah,” ujar Jamal.
Ia juga meminta dinas atau instansi terkait agar melakukan verifikasi ulang pengelompokan berdasarkan desil. “Karena masih ada masyarakat yang masuk kelompok desil tinggi, tetapi kehidupan sehari-harinya morat-marit,” pungkasnya. (B.01)
Penulis : Baihaqi
Editor : Redaksi






