Langsa, NagaNews.co, – Sebuah ironi terjadi di Kota Langsa pada Kamis (30/4/2026). Di satu sisi, puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) tengah menghadapi Ujian Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA) yang menentukan kelulusan. Di sisi lain, Pemerintah Kota Langsa menggelar tradisi peusijuek (tepung tawari) untuk melepas calon jamaah haji.
Namun, di tengah dua kegiatan sakral tersebut, ruas jalan protokol di sekitar pendopo dan sekolah justru diguncang aksi unjuk rasa. Pengeras suara menggelegar, akses jalan tersendat, dan suasana khusyuk dari kedua kegiatan terganggu.
Peristiwa ini mengulang kejadian serupa pada 2 April 2026 lalu, ketika aksi demo membuat sejumlah siswa berlari panik menembus barikade massa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ujian TKA Terganggu, Guru Khawatirkan Trauma Siswa
Seorang wali kelas di lokasi ujian yang enggan disebut namanya mengungkapkan kekhawatirannya. “Ujian ini bukan sekadar nilai. Ini soal mental. Kalau anak trauma, dia bisa benci sekolah seumur hidup,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (29/4/2026).
Suara orasi massa disebutnya terdengar hingga ke dalam ruang ujian, membuat konsentrasi anak-anak terganggu.
Tradisi Peusijuk Terganggu, Calon Haji Gelisah
Bergeser beberapa ratus meter ke lokasi peusijuek, suasana yang seharusnya khusyuk dengan lantunan doa dan shalawat ikut terpecah oleh teriakan peserta demo. Para calon jamaah haji (dhuyufurrahman) tampak menunduk gelisah, sementara keluarga yang hadir tidak bisa menyembunyikan rasa was-was.
Bagi masyarakat Aceh, peusijuek bukan sekadar seremoni, melainkan peumulia (pemuliaan) adat terhadap tamu Allah. Mengganggunya dinilai mencederai marwah masyarakat dan pemerintah setempat.
Pemerintah dan Masyarakat Diminta Kedewasaan
Para pengamat dan tokoh masyarakat menilai aksi demo yang mengganggu kegiatan pendidikan dan ibadah menunjukkan perlunya regulasi yang lebih tegas. Wacana mengenai “zona larangan demo” sejauh 200 meter dari sekolah dan tempat ibadah saat ada kegiatan kembali mengemuka.
“Demo boleh, tapi adab jangan runtuh. Teriak boleh, tapi jangan di depan anak yang sedang berdoa lewat ikhtiar ujian, dan di depan tamu Allah yang sedang bersiap menjawab panggilan Labbaik,” demikian pernyataan dari salah satu tokoh adat yang turut menyayangkan kejadian tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari koordinator aksi maupun Pemerintah Kota Langsa terkait gangguan yang ditimbulkan. (B.01/ril)
Penulis : Baihaqi
Editor : Redaksi






