Sawit, Pohon Ajaib yang Bisa Membuat Petani Jadi Tuan di Negeri Sendiri

Sabtu, 25 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ket. Fot : Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga.

Ket. Fot : Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga.

Serpong, NagaNews.co, – Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga, menegaskan perlunya revolusi teknologi dan mental dalam industri sawit nasional agar petani dan pelaku UMKM tidak terus berada di bawah bayang-bayang korporasi besar. Hal itu ia sampaikan dalam Workshop Jurnalis Promosi UMKM Sawit bertajuk “Kolaborasi Media dan Pelaku UKM Sawit untuk Indonesia Emas 2045” yang digelar di Serpong, Banten, Kamis lalu (23 Oktober 2025).

Gen Z sekarang tidak suka istilah CPO karena ada kata crude—mentah. Tapi kenapa hanya sawit disebut crude palm oil, sementara minyak lain seperti sunflower dan soybean oil tidak pernah disebut crude? Istilah itu warisan kolonial Belanda, dan ini bahaya bagi persepsi industri kita,” ujar Sahat di acara yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu.

Menurut Sahat, istilah “crude” hanyalah satu dari sekian banyak persoalan mendasar yang menunjukkan industri sawit Indonesia masih tertinggal dalam penguasaan teknologi. “Kita harus merevolusi industri ini. Teknologi pengolahan sawit sudah harus bergeser dari white process ke dry process yang lebih efisien dan rendah emisi karbon,” tegasnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menambahkan, perjalanan panjangnya di industri sawit sejak lulus dari Teknik Kimia ITB pada 1972 mengajarkan bahwa perubahan besar hanya bisa terjadi bila mental dan tata kelola ikut berbenah.

Karena penyakit kita bukan di pohonnya, tapi di manusianya : korupsi, manipulasi izin, dan ketidakpatuhan hukum,” katanya.

Munculnya Agrinas saya pribadi sangat happy, meskipun dengan cara yang itu-itu, tapi mulai berbenah. Jangan kita salahkan. Tolong ini disampaikan, jangan kalian celah. mari kita perbaiki, bukan untuk mencelah,” ujar Sahat.

Menurut dia, banyak negara luar memandang Indonesia sebagai negara yang kurang menarik bagi investor, terutama karena kondisi di lapangan yang masih semrawut dan penuh ketidaktertiban

Banyak negara luar mengatakan Indonesia payah, tidak ingin dimasuki investor karena kondisi lapangan yang sekarang, di mana satgas-satgas PKH mengambil hampir 1,5 juta hektare dan lain-lain,” ujar dia.

Menurut Sahat, saat ini Indonesia sedang kembali ke titik nol dalam membenahi tata kelola industri sawit. Pasalnya, selama ini sektor sawit dinilai masih amburadul dan tidak tertib dalam pengelolaan lahan.

Koperasi dan UMKM Jadi Ujung Tombak.

Sahat menilai masa depan sawit Indonesia ke depan harus di tangan koperasi modern dan pelaku UMKM. “Mulai 2026, titik kemajuan sawit ada di UMKM dan koperasi. Tapi jangan koperasi gaya lama. Kelola dengan profesional, lepas dari konflik kepentingan petani,” ujarnya.

Ia menjelaskan konsep koperasi sawit modern dengan teknologi dry process mampu mengubah petani dari sekadar objek menjadi subjek ekonomi. “Dengan lahan 5.400 hektare, satu koperasi bisa menghasilkan 38 ribu ton minyak bernilai 15 dolar lebih tinggi dari CPO biasa. Petani bisa beli rumah, mobil, dan sekolahkan anak-anaknya. Ini bukan mimpi,” katanya optimistis.

Lebih jauh, Sahat mendorong agar Indonesia tidak lagi mengekspor crude palm oil (CPO), tetapi produk olahan bernilai tambah tinggi, yang ia sebut sebagai Degummed Palm Mesocarp Oil  (DPMO). “DPMO harganya 15 dolar di atas CPO. Kalau ini diterapkan, nilai ekonomi sawit bisa melonjak jadi Rp 2.066 triliun pada 2029. Tidak ada sektor tambang pun bisa menyaingi,” ujarnya.

Negara lain, seperti China, bahkan menunjukkan ketertarikan mendukung program tersebut dengan membeli emisi karbon dari koperasi sawit Indonesia sebagai kompensasi investasi mesin pengolahan lokal.

Sahat menyoroti ketimpangan historis antara petani dan perusahaan besar. “Dari dulu perusahaan besar ambil kayu dari hutan, lalu tanam sawit di atas lahan itu. Petani hanya jadi penonton. Ini harus diubah. Petani jangan terus menjual TBS. Harus punya pabrik kecil, dekat dengan sumbernya, supaya distribusi efisien dan emisi rendah,” ujarnya lantang.

Ia juga menyinggung perlunya penegakan hukum dan sertifikasi lahan secara transparan agar petani bisa memperoleh sertifikasi berkelanjutan. “ATR/BPN sekarang sedang kerja keras. Jangan bilang ‘lahan keterlanjuran’. Itu stupid statement. Media harus berani bicara kebenaran,” tegasnya
Menutup paparannya, Sahat mengingatkan bahwa pohon sawit adalah satu-satunya tanaman di dunia yang mampu menghasilkan dua jenis minyak sekaligus – dari daging buah dan kernel.

“Di Jeddah, orang Mesir menyebut kurma sebagai ‘pohon kehidupan’. Tapi saya bilang, palm oil adalah pohon ajaib. Karena dari satu tanaman, kita bisa hasilkan dua jenis minyak dan ratusan turunan industri. Sawit adalah masa depan,” ujarnya.(red**)

Sumber : Majalah Sawit Indonesia

Berita Terkait

Antrean Solar Subsidi Membeludak, Polsek Medan Labuhan Turun Atur Lalu Lintas di SPBU
Harga Bapokting di Kota Langsa Stabil Sepekan, Sejumlah Komoditas Alami Fluktuasi Ringan
Wamen Dikdasmen RI Kunjungi Sekolah Maitreyawira Dumai: Guru Adalah Arsitek Masa Depan Bangsa
Green Policing di Pesisir Dumai: Kapolda Riau Tanam Mangrove untuk Masa Depan Lancang Kuning
Peringatan Diabaikan, Wako Agung Tertibkan Kabel Semrawut: Provider Tak Berizin Kena Sanksi
Polda Riau Gelar Operasi Katarak Gratis untuk 310 Warga Sambut Hari Bhayangkara ke-80
Tahapan Pilchiksung Kota Langsa Berlanjut, P2G dari 47 Gampong Ikuti Bimbingan Teknis
Pemprov Riau Gelar Penandatanganan Pakta Integritas untuk SPMB Bersih dan Berkeadilan
Berita ini 7 kali dibaca