Langsa, NagaNews.co – Sorotan tengah menyoroti pelaksanaan proyek revitalisasi gedung sekolah di Kota Langsa, mulai dari jenjang TK, PAUD, hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Proyek yang merupakan inisiatif strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan proses belajar mengajar pasca bencana banjir Aceh. Namun, dalam pelaksanaannya, proyek ini terindikasi menyimpan sejumlah kejanggalan.
Berdasarkan pantauan NagaNews.co, terdapat indikasi bahwa pelaksanaan proyek revit dikendalikan oleh oknum yang diduga ingin meraih keuntungan dengan cara tidak sehat. Dampak dari dugaan keserakahan tersebut, sejumlah kepala sekolah (Kepsek) dimutasi dari sekolah asal ke sekolah lain dengan dalih “penyegaran”. Tidak hanya itu, Kepala Dinas Pendidikan pun ikut terkena imbas rotasi jabatan.
Fakta ini semakin menguatkan dugaan adanya kepentingan oknum tertentu di balik proyek revitalisasi. Seorang sumber yang enggan disebutkan identitasnya mengaku bahwa pemindahan dirinya dari sekolah asal dilakukan secara mendadak dan dinilai di luar prosedur. Menurut pengakuannya, lima orang staf dari Dinas Pendidikan Langsa langsung diutus ke sekolah untuk memberitahukan bahwa mulai saat itu jabatan Kepsek telah beralih kepada orang baru yang ditunjuk oleh dinas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya heran dan sangat terkejut saat beberapa orang staf dari Dinas Pendidikan Langsa datang ke sekolah dan meminta tanda tangan pemindahan saya ke sekolah lain. Mereka tidak menjelaskan alasan-alasan yang kuat terkait pemindahan saya,” ujar sumber yang merupakan salah seorang Kepsek yang dimutasi, kepada NagaNews.co, Senin (24/8/2026).
Ia menambahkan, saat staf dinas datang, mereka tidak membawa Surat Keputusan (SK) pemindahan. Baru lima hari kemudian, SK tersebut diberikan kepadanya. Namun, hingga kini, alasan resmi di balik pemindahannya masih belum jelas.
“Ini menjadi tanda tanya besar bagi saya, apa penyebabnya hingga saya dimutasi ke sekolah lain,” tutup sumber tersebut dengan nada penuh pertanyaan.
Sementara itu, pemindahan sejumlah Kepsek yang terjadi di tengah berjalannya proyek revitalisasi ini dinilai sarat dengan kepentingan tertentu. Proyek yang diklaim bersifat swakelola dan menggunakan rekening sekolah diduga hanya sekadar formalitas di atas kertas. Sementara itu, pengendalian anggaran diduga kuat masih dikendalikan oleh pihak dinas, bukan sepenuhnya oleh sekolah.
Pantauan lebih lanjut masih terus dilakukan untuk mengungkap secara utuh dugaan penyimpangan dalam proyek revitalisasi ini. (B.01)
Penulis : Baihaqi
Editor : Redaksi






