Oleh: Manaor Sinaga
Tidak semua perjuangan terdengar lantang. Sebagian berlangsung dalam sunyi, jauh dari sorotan, namun menyimpan keteguhan hati dan semangat yang luar biasa untuk terus melangkah meraih harapan. Begitulah perjalanan Vorna Yulia Dedes, yang akrab disapa Yulia.
Lahir di Payakumbuh pada 15 Januari 1986, anak bungsu dari empat bersaudara ini adalah penyandang disabilitas sensorik rungu. Sejak kecil, ia telah berhadapan dengan berbagai tantangan, mulai dari hambatan pendengaran, perundungan di lingkungan sekolah, hingga terhentinya pendidikan formal. Namun, pengalaman pahit itu tidak sepenuhnya memadamkan harapannya. Yulia tetap menyimpan keinginan sederhana, tetapi bermakna besar: terus belajar, mendapatkan pekerjaan, dan suatu hari mampu menjalani kehidupan secara mandiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jalan Terjal Menuju Ruang Belajar
Perjalanan pendidikan Yulia tidaklah mudah. Setelah diasuh neneknya di masa bayi, ia kembali tinggal bersama orang tua dan mulai bersekolah di sebuah SD Negeri di Payakumbuh. Harapan untuk belajar seperti anak lainnya ternyata tak berjalan mulus. Perundungan dari teman-temannya meninggalkan luka dan membuatnya sulit bertahan. Orang tuanya pun berusaha mencari lingkungan yang lebih sesuai dengan menyekolahkannya di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Namun, perjalanan itu kembali diwarnai pengalaman pahit. Perundungan kembali ia alami hingga akhirnya Yulia berhenti sekolah saat duduk di kelas enam. Meski pendidikan formalnya terhenti, keinginan untuk belajar tidak ikut padam. Di sela-sela membantu orang tua, ia terus berusaha belajar membaca dan menulis secara otodidak. Tidak ada ruang kelas, seragam, ataupun guru yang mendampinginya setiap hari. Namun, tekad untuk terus belajar tetap ia jaga, menyadari bahwa kemampuan literasi adalah bekal penting menuju kehidupan yang lebih baik.
Mimpi yang Tak Pernah Padam
Seiring bertambahnya usia, keinginan Yulia untuk mandiri semakin besar. Ia ingin bekerja, memperoleh penghasilan, dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Namun, mencari pekerjaan bukan perkara mudah. Tanpa ijazah, banyak lowongan kerja yang tertutup baginya. Meski demikian, ia tidak menyerah. Setiap kali bertemu orang yang dikenalnya, Yulia berusaha mencari informasi tentang peluang kerja. Baginya, setiap informasi adalah kemungkinan untuk mengubah masa depan.
Harapan sempat muncul ketika seorang kerabat memberitahunya tentang lowongan di sebuah toko grosir pakaian. Yulia pun mendapatkan kesempatan itu, meski tidak berlangsung lama. Ia kembali harus mencari peluang lain untuk mewujudkan mimpinya.
Titik Terang di Kafe Ruang Setara
Bagi Yulia, pekerjaan bukan sekadar cara mendapatkan uang. Lebih dari itu, pekerjaan adalah pintu menuju kemandirian dan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Titik terang itu datang dari seorang sahabat yang memberitahunya tentang sebuah koperasi yang mengelola kafe dengan semangat kesetaraan dan komitmen memberdayakan penyandang disabilitas.
Sahabatnya memberikan nomor kontak Lianny, seorang aktivis yang peduli terhadap penyandang disabilitas sekaligus Juru Bahasa Isyarat (JBI). Komunikasi dengan Lianny membuka jalan baru. Yulia diarahkan untuk mengikuti pelatihan barista yang diadakan oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program Community Involvement and Development (CID), bekerja sama dengan UPT Dinas Sosial Provinsi Riau.

Kemampuan itu membuktikan bahwa hambatan pendengaran dan komunikasi tidak serta-merta menghalangi seseorang untuk mempelajari keterampilan baru. Kini, Yulia dipercaya bekerja sebagai barista di Kafe Ruang Setara, menjadi bagian dari tim yang terdiri dari lima penyandang disabilitas.
Kesempatan, Bukan Belas Kasihan
Kisah Yulia adalah cermin bahwa penyandang disabilitas membutuhkan kesempatan yang setara, bukan sekadar belas kasihan. Mereka membutuhkan ruang untuk belajar, bekerja, dan menunjukkan kemampuan berdasarkan potensi yang dimiliki. Ketika ditanya tentang PHR, Yulia hanya tersenyum. Ia mengaku belum tahu banyak, selain bahwa PHR adalah perusahaan negara di bidang migas. Namun, ia sangat bersyukur atas pelatihan yang telah mengubah hidupnya.
“Semoga PHR terus peduli kepada anak-anak disabilitas, memberikan kesempatan kepada anak disabilitas lainya untuk mengikuti pelatihan, sekaligus membantu menyalurkannya ke dunia kerja sesuai dengan kemampuan masing-masing,” harap Yulia.

Di balik sunyi yang menyertai kehidupannya, Yulia menyimpan mimpi yang sama seperti banyak orang: terus belajar, bekerja, hidup mandiri, dan menjadi pribadi yang berguna. Kini, melalui pekerjaannya sebagai barista, ia melangkah lebih dekat menuju mimpi tersebut.
Bagi Yulia, secangkir kopi yang diraciknya bukan sekadar minuman. Di balik setiap racikan, ada perjuangan, keberanian, dan mimpi tentang kehidupan yang lebih mandiri. Sebab, terkadang seseorang tidak membutuhkan perlakuan istimewa untuk membuktikan kemampuannya. Ia hanya membutuhkan kesempatan yang setara, ruang untuk berkembang, dan kepercayaan bahwa dirinya mampu.***
Penulis : Manaor Sinaga
Editor : Redaksi






