Kota Langsa, NagaNews.co, – Kritik tajam terhadap sistem pendidikan nasional kembali mencuat. Afinas Qadafi menilai, arah pendidikan Indonesia saat ini telah bergeser jauh dari tujuan idealnya. Menurutnya, dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, institusi pendidikan dinilai lebih berfungsi sebagai pencetak tenaga kerja dibandingkan ruang pembentukan pemikir kritis.
Dalam pernyataannya, Afinas menegaskan bahwa persoalan ini tidak berdiri di satu jenjang saja, melainkan berlangsung secara sistemik.
“Sejak sekolah, siswa dibiasakan patuh. Masuk kampus, pola itu dilanjutkan. Hasil akhirnya jelas: lulusan yang siap bekerja, tapi belum tentu siap berpikir,” ujar Afinas dalam rilis yang diterima NagaNews.co, Selasa (28 April 2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Afinas menyoroti praktik pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan, kepatuhan terhadap standar jawaban, serta penilaian berbasis angka. Menurutnya, pola tersebut menghambat lahirnya kemampuan analisis dan keberanian intelektual.
Kondisi serupa, lanjut Afinas, juga terjadi di perguruan tinggi. Mahasiswa dituntut mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), publikasi formalitas, dan kelulusan cepat, tetapi minim ruang untuk berpikir bebas, berdialektika, atau bahkan berbeda pendapat serta membangun gagasan kritis.
“Di kampus, mahasiswa tidak lagi didorong untuk mencari kebenaran, tapi mengejar validasi. Skripsi jadi formalitas, diskusi jadi seremonial, dan kritik dianggap ancaman. Kampus seharusnya menjadi ruang bebas untuk berpikir. Tapi yang terjadi, mahasiswa justru sibuk memenuhi standar, bukan membangun argumen,” katanya.
Ia menyebut fenomena ini sebagai krisis intelektual yang terstruktur, di mana pendidikan berjalan mengikuti kebutuhan pasar tenaga kerja. Afinas menilai program berbasis industri memang penting, namun jika terlalu dominan, berisiko menggeser fungsi utama pendidikan sebagai ruang pembentukan kesadaran.
Lebih lanjut, Afinas menjelaskan bahwa pandangannya tersebut mengingatkan pada pemikiran Tan Malaka yang menekankan pendidikan harus mampu mengembangkan kecerdasan, kemauan, dan kepekaan manusia. Dalam karyanya Madilog, Tan Malaka juga menyoroti pentingnya logika dan cara berpikir ilmiah sebagai fondasi kemajuan bangsa.
Afinas menilai, tanpa keseimbangan antara keterampilan kerja dan kemampuan berpikir kritis, lulusan pendidikan akan cenderung berada pada posisi sebagai pelaksana, bukan penggagas.
“Mahasiswa hari ini lebih takut nilai jelek daripada takut kehilangan nalar. Itu masalah besar,” sindirnya.
Ia juga mengkritik relasi erat antara kampus dan dunia industri yang dinilai semakin pragmatis. Program magang, link and match, hingga kurikulum berbasis kebutuhan pasar memang penting, tetapi jika tidak diimbangi dengan pembentukan nalar kritis, pendidikan hanya akan menjadi alat reproduksi sistem ekonomi.
“Kampus bukan pabrik sumber daya manusia. Kalau itu yang terjadi, kita sedang menyederhanakan manusia jadi alat produksi,” tegasnya.
Sebagai solusi, Afinas mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, mulai dari metode pembelajaran hingga ruang kebebasan akademik. Ia menekankan pentingnya membuka ruang diskusi, memperkuat budaya berpikir kritis, serta menempatkan dosen dan guru bukan sebagai pengajar, tetapi sebagai pemantik pemikiran.
Sebagai penutup, Afinas menyampaikan pesan tajam yang sekaligus menjadi peringatan:
“Jangan kita bohongi diri sendiri. Sekolah hari ini bukan tempat lahirnya pemikir, tapi pabrik buruh intelektual. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kita kekurangan adalah orang yang berani berpikir. Selama pendidikan masih mencetak pekerja, bukan pemikir, selama itu pula masa depan kita akan ditentukan oleh bangsa lain.”
Kritik tajam tersebut disampaikan Afinas Qadafi kepada NagaNews.co. (B.01)
Penulis : Baihaqi
Editor : Redaksi






