Jakarta, NagaNews.co, – Rombongan saham emiten perkebunan sawit dan produsen CPO kompak bergerak di zona hijau pada perdagangan Senin (22/4/2026). Penguatan ini sejalan dengan melambungnya harga CPO global yang terdorong lonjakan harga minyak mentah dan sentimen positif dari pasar minyak nabati.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia hingga pukul 11.13 WIB, PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) menjadi pemimpin penguatan dengan lonjakan 4,46% ke posisi Rp234 per saham. Disusul PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang naik 3,58% menjadi Rp1.880 per saham.
Tak ketinggalan, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) menguat 3,45% dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) melesat 3,36%. Sementara itu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) bertambah 2,10%, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) menguat 2,03%, dan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) naik 1,80%. Dua emiten lain, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) dan PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN), masing-masing menguat 1,52% dan 0,75%.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemicu dari Pasar Global
Harga CPO acuan untuk pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat naik 0,45% ke level 4.470 ringgit per ton pada awal perdagangan. Kenaikan ini sejalan dengan rebound harga minyak dunia yang melonjak lebih dari 6% setelah sebelumnya anjlok 9% pada Jumat.
Mengutip Reuters, memanasnya kembali ketegangan di Selat Hormuz akibat saling tuding antara AS dan Iran menjadi biang utama lonjakan minyak mentah. Alhasil, CPO pun kian kompetitif sebagai bahan baku biodiesel, sehingga turut menopang permintaan.
Adapun pergerakan minyak nabati lain cenderung variatif. Minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) naik 0,54%, sedangkan kontrak soyoil paling aktif di Dalian melemah tipis 0,05%. Namun kontrak minyak sawit di Dalian justru menguat 0,16%.
Sentimen Tambahan dari Dalam Negeri
Dari sisi fundamental, prospek permintaan mendapat dorongan ekstra. Malaysian Palm Oil Board (MPOB) memperkirakan konsumsi biodiesel berbasis sawit di Malaysia akan meningkat lebih dari 300.000 ton per tahun. Langkah ini sejalan dengan kebijakan Indonesia yang terus menaikkan mandat pencampuran biodiesel demi mengurangi ketergantungan pada impor energi.(MS*)
Penulis : MS
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Majalah Sawit Indonesia






