Ekonom Riau Soroti Kabut Asap Pekanbaru: Tekan Aktivitas Ekonomi

Rabu, 26 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan Foto: Ekonom Riau, Dahlan Tampubolon. (dok.ist)

Keterangan Foto: Ekonom Riau, Dahlan Tampubolon. (dok.ist)

Pekanbaru, NagaNews.co – Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru beberapa hari terakhir tidak hanya mengganggu aktivitas belajar mengajar, tetapi juga berdampak signifikan terhadap perekonomian daerah. Kondisi ini menyita perhatian berbagai pihak, termasuk para akademisi dan pelaku usaha.

Ekonom Riau, Dahlan Tampubolon, menyoroti dampak negatif kabut asap yang dinilainya menekan laju perekonomian di Kota Bertuah.

“Kabut asap menekan aktivitas ekonomi melalui penurunan mobilitas masyarakat dan kenaikan biaya operasional,” ujar Dahlan kepada NagaNews.co pada Rabu (26/8/2026).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Dahlan, persoalan kabut asap bukan sekadar masalah kualitas udara, melainkan bentuk eksternalitas negatif. Ia menjelaskan bahwa biaya sosial yang ditimbulkan jauh lebih besar dibandingkan biaya yang langsung ditanggung oleh pelaku pembakaran lahan, baik korporasi perkebunan maupun praktik tebas bakar skala kecil.

“Biaya sosial itu dirasakan langsung oleh Kota Pekanbaru dalam bentuk penurunan produktivitas, peningkatan biaya kesehatan, hingga terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat,” papar dosen perguruan tinggi tersebut.

Dahlan juga menyoroti ketimpangan administratif dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menyebut bahwa Pekanbaru bukanlah wilayah utama sumber titik api. Berdasarkan data yang dihimpun, titik panas terbanyak justru berada di Kabupaten Pelalawan.

“Karena sumber eksternalitas dan pihak yang menanggung dampak berada di yurisdiksi administratif yang berbeda, penyelesaiannya tidak bisa mengandalkan mekanisme pasar atau negosiasi bilateral semata. Diperlukan intervensi dan koordinasi dari otoritas lebih tinggi, yaitu antar pemerintah daerah yang difasilitasi pemerintah provinsi dan pusat,” jelasnya.

Jika kabut asap terus berlanjut, Dahlan memperingatkan sejumlah sektor ekonomi berpotensi mengalami penurunan, seperti transportasi, pariwisata, perhotelan, restoran, UMKM, penerbangan, MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), serta jasa bisnis. Menurutnya, tingkat dampak di tiap sektor pun berbeda-beda.

Ia menekankan bahwa sektor penerbangan, MICE, dan jasa bisnis memiliki peran strategis karena mampu menarik pendapatan dari luar daerah ke Pekanbaru.

“Ketika sektor ini terganggu, dampaknya bukan sekadar kehilangan pendapatan sektor itu sendiri, tetapi berkurangnya injeksi uang baru ke ekonomi kota. Ini kemudian memicu efek berganda ke sektor non-basic seperti warung makan, ojek daring, dan ritel lokal yang selama ini bergantung pada perputaran uang dari sektor basic tadi,” terangnya.

“Ini argumen yang lebih kuat daripada sekadar menyebut UMKM rentan, karena menjelaskan mekanisme transmisi dampaknya secara jelas,” tambahnya.

Dahlan menilai bahwa kabut asap yang terjadi saat ini bukan lagi sekadar risiko potensial di masa depan, melainkan guncangan ekonomi (shock) yang sedang berlangsung dan terus memburuk.

Kualitas udara Pekanbaru dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Per 23 Agustus 2026, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru tercatat mencapai 133,7 mikrogram per meter kubik dengan indeks kualitas udara (AQI) 177 atau masuk kategori tidak sehat.

Data Dinas Kesehatan setempat mencatat 5.325 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Juli 2026, dan angka tersebut bertambah 376 kasus baru pada awal Agustus 2026.

Sementara itu, berdasarkan data BMKG, sejak 1 Januari hingga pertengahan Agustus 2026, terdeteksi hampir 10.000 titik panas di Riau dengan luas lahan terbakar mencapai 16.231 hektare. Kabupaten Pelalawan menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi kebakaran paling parah.

“Artinya, kita tidak lagi berbicara tentang potensi risiko di masa depan, tetapi sedang membedah shock atau hantaman bencana yang sedang berlangsung dan semakin meledak dalam tiga minggu terakhir,” tutup Dahlan.(MS**)

Penulis : MS

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Warga Bumi Agung Serahkan Senpi Rakitan, Bukti Kesadaran Hukum Masyarakat
Polsek Baradatu Pasang Banner Imbauan Cegah Karhutla di Sejumlah Kampung
Wali Kota Langsa di Maulid Akbar: Jadikan Keteladanan Rasul Pondasi Pembangunan Kota
Sinergi TNI-Polri dan Pemkab Way Kanan Padamkan Titik Api di Tanjung Sari
Hari Ke-11 Karhutla, Kapolres Kampar Turun Langsung Padamkan Api di Lahan Gambut
Kodam XIX/Tuanku Tambusai Gerak Cepat Padamkan Karhutla di Toro Jaya
BENTARA NJ Kota Langsa Kembali Gelar Turnamen Mini Soccer, 32 Tim Bertanding
Sinergi Jaga Kamtibmas, Warga Karta Jaya Serahkan Senpi Rakitan ke Polsek Negara Batin
Berita ini 3 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 16:27 WIB

Ekonom Riau Soroti Kabut Asap Pekanbaru: Tekan Aktivitas Ekonomi

Rabu, 26 Agustus 2026 - 16:03 WIB

Warga Bumi Agung Serahkan Senpi Rakitan, Bukti Kesadaran Hukum Masyarakat

Rabu, 26 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Polsek Baradatu Pasang Banner Imbauan Cegah Karhutla di Sejumlah Kampung

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:49 WIB

Wali Kota Langsa di Maulid Akbar: Jadikan Keteladanan Rasul Pondasi Pembangunan Kota

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:06 WIB

Sinergi TNI-Polri dan Pemkab Way Kanan Padamkan Titik Api di Tanjung Sari

Berita Terbaru